Dibalik Cahaya Kecil
”Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh
selain apa yang telah diusahakannya.”
(QS. An Najm : 39)
Disebuah Desa kecil tinggalah seorang
anak yang tangguh, yang memikul beban
keluarganya, dia bernama Cahyo. Cahyo ditinggalkan oleh Ayahya sejak dia kelas
5 SD, Ayahnya meninggalkannya karena dipanggil
oleh Allah. Cahyo tinggal bersama
Ibunya dan Kedua Adiknya, Adiknya yang pertama bernama Rendi, yang masih berumur 7 tahun, sedangkan yang
kedua bernama Rizal, yang berumur 3 tahun.
Cahyolah yang harus memikul beban keluarga dan juga harus menjadi seorang Ayah bagi
kedua Adiknya. Walaupun itu adalah beban yang sangat berat bagi seorang anak
yang masih duduk di bangku kelas 6 SD, tapi hal itu tidak melemahkan
semangatnya untuk menjalani skenario dari Allah dengan sabar.
Kebiasaan Cahayo ketika pagi, setelah
melaksanakan sholat subuh dan membaca Al-Quran, adalah menyiapkan sarapan untuk
dia dan adiknya. Selesai menyiapkan sarapan, Ia bergegas untuk mandi, lalu
bersiap untuk berangkat Sekolah. Begitupun dengan hari ini, tapi hari ini
sepertinya cuaca sedang tidak bersahabat dengan dirinya, diluar hujan di sertai dengan angin, namun itu tidak
melunturkan semangat Cahyo untuk pergi menuntut ilmu. Dengan menggunakan payung
yang sudah rusak, tas yang ada dipundaknya dan juga kue bungkus yang ada
diranjangnya, dia berangkat dengan hati yang gembira. Kue-kue itu akan Cahyo titipkan kepada pedagang samping
sekolahan. Dijalan , Cahyo melihat teman-temannya yang diantarkan oleh Ayahnya
dengan sepeda motor, didalam hati
kecilnya ia berkata, “andai saja, aku masih punya Ayah seperti mereka ,mungkin
nasibku tidak seperti ini”, kemudian ia melanjutkan perjalannya.
Ditengah jalan tiba-tiba Cahyo
terpeleset, ia terpeleset hinga masuk kedalam genangan air, sehinga seragamnya
kotor dan kue yang dibawanya hancur,
”aduh…….aku
pasti dimarahi ibu” ujarnya dengan raut muka sedih dan panik.
Sesampainya
disekolah, Bayu menertawakannya, karena wajahnya yang penuh dengan lumpur dan
bajunya yang sangat kotor.
“hahaha……ada
anak gembel teman-teman..,” seru Bayu mengejek Cahyo.
Tidak
lama,bel pun berbunyi. Semua siswa masuk kedalam kelas,
“Cahyo,
kenapa baju kamu kotor begitu ,” Tanya Bu Guru.
“Tadi
saya jatuh Bu dijalan,,,,” jawab Cahyo dengan wajah murung.
“mungkin
tadi dia kesawah dulu Bu….hahaha” saut Bayu mengejek.
Mendengar
ejekan Bayu, satu kelas pun ikut tertawa.
“Bayu,
kamu tidak boleh begitu dengan temanmu, ayo cepat minta maaf sama Cahyo,”kata Bu
Guru kepada Bayu.
“ngak
mau ah Bu,” Bayu menolak.
“Kalau
kamu tidak mau minta maaf, Ibu akan panggil orang tua kamu,” kata Bu Guru,
mengancam. Mendengar ancaman dari Bu Guru, akhirnya Bayupun mau meminta maaf
kepada Cahyo,
“maafin
gue, Yo,”
“iya
kok ,gpp” kata Cahyo dengan ikhlas.
Selesai sekolah Cahyo pulang dengan
berjalan kaki, diperjalanan cahyo bertemu dengan Niko,
“Hai
Cahyo ….Ayo bareng aku naik sepeda,” Ajaka Niko.
“Hai
Niko…boleh,” Cahyo menerima ajakan Niko.
“Kamu
tau ngak?,ada seleksi tim Volley lo…kita bisa daftar di kantor Kecamatan,
banyak sekali loh yang ikutan ,” Niko memberitahu kepada Cahyo sambil mengayuh
sepedannya . “Wah …aku gak punya uang buat daftarnya Nik,” kata Cahyo pelan.
“Tenang
saja …..pendaftarannya gratis kok…kamukah jago main volley …kalo lolos langsung ikut seleksi di tingkat Kabupaten lo, dan nanti di pilih yang paling hebat untuk ikut tim
Provinsi,”, jelas Niko.
“Aku
piker dulu deh, Aku juga mau ijin sama Ibuku dulu,”Jawaba Cahyo.
“Iya,
kalo boleh, terus bisa ikut tim Provinsi, lumayan loh dapat duit lumayan gede,”
lanjut Niko .
“Yaudah
deh nanti Insyaallh aku ikut kok,” kata Cahyo dengan semangat.
Sesampainya
dirumah, Cahyo membuka pintu,
”Assalamuallaikum,”
Cahyo mengucap salam.
“Wallaikumsalam”,
Ibunya menjawab dengan wajah yang sadikit berbeda.
“Cahyo,
Ibu tadi dapat protes dari pedagang samping sekolahanmu, Dia tidak mendapatkan
kue-kuenya , dimana kuenya ? ”, Ibu Cahyo sedikit marah kepada Cahyo.
”Anu
Bu, tadi waktu Cahyo berangkat sekolah,Cahyo terpeleset dan jatuh, lalu
kue-kuenya kotor dan hancur, hanya tersisa 5 yang utuh, terus aku jual keteman-teman. Ini
uangnya,hanya 5000” , jawab Cahyo dengan wajah sedih dan gelisah, sambil
menyodorkan uangnya.
“owch, yaudah gak papa ,lain kali harus lebih
hati-hati lagi ya, yaudah makan sana,” kata Ibu dengan muka tersenyum sambil
mengelus kepala Cahyo.
Malam
hari, selesai salat Isya dan membaca Al-Qur’an, Cahyo bersandar di tembok
sambil memikirkan sesuatu,
“apa
aku harus ikut seleksi voli itu atau tidak,” katannya dalam hati.
Tanpa
piker panjang, dia menggelar sajadahnya kembali, Cahyo melakukan sholat
Istikharah, untuk mendapat petunuk dari Allah. Selesai Sholat, ia melihat seekor kunang-kunang yang terbang
di dalam rumahnya. Kunang-kunang itu
terbang melewati cahaya lampu diatasnya , hingga cahaya kecil itu hampir tak
terlihat. Tiba-tiba, listrik mendadak mati, Cahyo binggung mencari lilin, kemudian
ia melihat pancaran cahaya kunang itu mampu membuatnya melihat di sekelilingnya
walaupun tidak cukup terang . Cahyo menangkap kunang itu, ia membawannya menuju
ke dapur untuk mencari lilin, akhirnya
Cahyo menemukannya, Cahyo menyalakan
lilin itu. Kemudian Cahyo tau, bahwa
cahaya kecil memang tidak ada apa-apanya jika disbanding cahaya besar, tapi cahaya kecil mampu
menerangggi disaat cahaya besar itu tidak ada. Melihat hal itu, Cahyo menerapkannya
dalam hidupnya, dia memang bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, dia hanyalah
anak orang tak punya dan hanyalah bocah kecil penjual kue, tapi dia punya
keyakinan kalau bocah kecil ini bisa menadi yang terbaik dan bisa membuat orang
tua bangga. Cahyo, memutuskan untuk ikut seleksi bola volley itu.
Keesokan harinya ia menemui Ibunya,
“Bu,
apa aku boleh ikut seleksi bola voli akan –anak di Kecamatan ?,” Cahyo meminta
izin kepada Ibunya untukk ikut seleksi itu.
“Baiklah,
Ibu ijinkan kamu ikut , tapi kamu harus semangat ya, jangan kecewakan Ibu”,
kata Ibu dengan senyum penuh harap.
“
Baik Bu, Aku tidak akan mengecewakanmu,” kata Cahyo dengan semangat. Tidak lama
, kemudian Niko tiba dirumah Cahyo,
setelah Niko bertegur sapa dengan Ibu Cahyo. Niko dan Cahyopun berangkat bersama. Sampai di Kecamatan mereka
langsung mendaftar kepada panitia. Mereka berdua mengikuti seleksi dan akhirnya
ikut masuk ke dalam seleksi tingkat Kabupaten.
“Akhirnya
kita bisa lolos seleksi ini Nik” Cahyo memeluk Niko.
“Iyaaa,
tapi ditingkat Kabupaten nanti saingan kita pasti lebih berat lagi,” kata Niko.
“Sesulit
apapun, kita tidak boleh meyerah, Aku sudah berjanji kepada Ibuku bahwa Aku
akan membuatnya bangga, dan semoga Almarhum Ayahku juga akan melihat keberhasilanku
nanti,” Cahyo meneteskan air mata.
Tak terasa dua minggu berlalu. Cahyo dan
Niko di bawa ke Kabupaten untuk ikut seleksi, mereka mengikuti seleksi itu
dengan penuh semangat. Cahyo dan Niko menunjukkan skillnya dengan bermain sangat hebat. Tapi Cahyo lebih unggul dari
Niko, bahkan peserta yang lainya. Saat pengumuman, Cahyo menjadi orang yang
terpilih ikut tim Provinsi karena permainnya yang sangat hebat. Ahrinya Cahyo, langsung
bisa masuk di tim bola voli anak tingkat Provinsi. Ibu dan adik-adiknya pun bangga, Karena Cahyo bisa menjadi yang
terbaik. Beda dengan Cahyo, Niko tidak berhasil masuk tim Provinsi karena waktu seleksi Dia keseleo , sehingga
tidak menunjukkan permainan terbaiknya secara maksimal.
“Selamat
ya Cahyo kamu lolos,”k ata niko, sedikit
sedih karena tidak lolos seperti Cahyo.
“Iya
Nik, terimakasih, kamu juga jangan menyerah ya, suatu saat kamu pasti juga bisa
menjadi yang terbaik,” kata Cahyo memberi semangat.
“
Iya, Cahyo,..terimakasih atas semangatmu,” Niko menjabat tangan Cahyo.
Beberapa hari kemudian, Cahyo beranjak ke Jogja bersama teman-temannya
yang lolos ke Provinsi. mereka diajak kesana untuk latihan. Cahyo pada saat
latihan, menjadi pemain yang paling menonjol, sehingga masuk jadi pemain inti.
Babak penyisihan, perdelapan besar dan
semifinal, mampu di lewati oleh tim Jogja.
Akhirnya
Jogja akan melawan Provinsi Sulawesi Selatan. Cahyo menjadi pemain yang paling
diandalkan disana, sorak sorai penonton menjadikan, suasana lapangan ramai, pertandingan
sangat menegangkan sekali, karena dari Tima Jogja sudah memegang 1 babak kemenangan, begitu pula dengan Sulawesi
Selatan. Pada set terakhir, Cahyo agak gugup , Dia tidak yakin kalau dia bisa,
akan tetapi dia ingat janji kepada ibunya. Ini adalah detik-detik yang sangat
menegangkan, karena nilainya 24 sama, Cahyo melakukan smash keras sehingga timnya ungul 1 poin. Pada saat toser
memberikan umpan kepada Cahyo, Cahyo mulai ragu untuk melakukan smash, tapi karena
tekad yang sangat besar, ia melompat dengan tenaga yang kuat lalu memukul bola
dengan sangat kuat, dan ternyata Cahyo berhasil dengan smashan yang sangat keras. Anak dari Desa kecil itu, akhirnya mampu
membuat tim voli Jogja menjadi juara.
Cahyo mendapat penghargaan pemain terbaik turnamen. Dia juga mendapat beasiswa
sekolah dan sejumlah uang pembinaan .
Cahyo menggunakan uang jerih payahnya
untuk membeli sepeda dan sisanya ia infaqkan. Orang tuannya pun sangat bangga
pada Cahyo.Cahyo mampu menunjukkan bahwa cahaya kecil itu bisa menerangi
keluarga walau tidak seterang cahaya besar.
![]() |
| Fandam Ginanjar Saat Selesai Mengikuti Lomba Pidato TQA, FASI X Tingkat Kabupaten Gunungkidul |
Biodata Penulis
Nama
: Fandam Ginanjar
Alamat
: Tepus, Tepus, Gunungkidul,
D.I. Yogyakarta
Penulis merupakan alumni TPA Fathul Ulum dan sudah menjadi kakak pembimbing untuk TPA Fathul Ulum.

Komentar
Posting Komentar