Berhijab Itu Indah



”Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin,”Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak di ganggu.”
(Qs. Al-Ahzab : 59)




Suatu ketika Aisah dan Aminah sedang bermain di lapangan. Mereka berdua berjumpa dengan Bu Rohmin yang setiap hari memakai jilbab, Aisah dan Aminah menghampiri Bu Rohmin.  Mereka berdua bertanya tentang jilbab.
Aisah dan aminah menyapa, “Assalamualiakum Bu”.
“ Bu bagaimana rasanya berjilbab ?”, Aisah bertanya.
“Rasanya biasa saja tapi satu keistimewaannya yaitu dapat menutup aurat dan juga salah satu rasa ketaatan kita pada Sang pencipta,” Bu Rohmin menjelaskan.
Aminah menyahut,”Terus apa, Ibu tidak bosan dengan menggunakan atau memakai jilbab  ?”.
“Kenapa harus bosan, karena berhijab itu sungguh baik dalam Agama Islam, cobalah kalian mencoba mengenakan hijab pasti kalian akan berubah,” jawab Bu Rohmin.
Aisah dan Aminah serentak menjawab sekaligus berpamitan, “ baik kami akan mencoba mengenakan jilbab, kami pulang dulu ya Bu, Assalamualaikum”.
“Walaikumsallam”, jawab Bu Rohmin.
            Aisah dan Aminah, setelah hari itu mereka mencoba mengenakan hijab. Setelah mereka mengenakan jilbab Ibu Aisah dan Ayahnya bertanya kepada Aisah dan Aminah , Waktu mereka bermain di rumah Aisah, keluarga Aisah seperti menginterograsi mereka.
“Mengapa kalian mengenaka Jilbab, nggak seperti biasanya ? “ Tanya Ibu Aisah.
“Ya , Karena aku ingin seperti Ibu Rohmi yang selalu memakai Jilbab, terlihat Anggun Buk,” jelas Aisah.
“Jadi aku dan Aisah, ingin mencoba untk mengenakan jilbab Buk”, timpal Aminah.
“Hebat juga ya , kalian masih kecil tapi sudah ingin mengenakan jilbab, aku sungguh bangga pada kalian”, puji Ibu Aisah.
Dengan serentak mereka mengucapkan terimakasih, atas pujian yang diberikan oleh Ibu Aisah.
            Aisah dan Aminah gemar bermain dilapangan bersama teman-temannya. Entah panas atau hujan sekalipun. Begitu dengan hari ini, merekan ingin menuju kelapangan untuk bermain bersama teman-temannya.  
“Kalian mau kemana, panas-panas gini ?”, tanya seorang Ibu yang sedang menggendong anaknya.
 Aisah menjawab dengan lembut ,” Kami hanya ingin bermain kelapangan situ, Buk”.
Sesampainya mereka dilapangan, teman – temannya, melihat mereka dengan tatapan yang aneh. Tatapan yang membuat kening, mereka mengerut , seakan ada pertanyaan di benak mereka. Mungkin anak-anak itu , heran dengan perubahan yang ada pada diri Aisah dan Aminah.
Ketika , Aisah dan Aminah asyik bermain, Bu Rohmin melihat mereka.
“Hebat kalian dapat mengenakan hijab”, puji Bu Rohmin.
“Ini berkat Ibu, yang memberi inspirasi pada saya dengan begitu kami ingin mencoba seperti apa yang Ibu lakukan, “jelas Aisah.
“O begitu yaa ternyata, kalian itu sungguh anak yang baik ya. Penurut dan nilai tambahnya suka meniru hal-hal baik dari orang lain, ya udah ya mainnya diterusin, Aku mau ke took beli sayuran,” pamit Bu Rohmin.
“Ya, Bu , hati-hati di jalan,” Jawab Aminah.
Mendengar percakapan antara Bu Rohmin, Aminah dan Aisah, teman bermain mereka juga ingin mengenakan hijab. Jadi, semakin hari semakin banyak yang memakai hijab.
            Perubahan yang ada di Desa, disikapi dengan baik oleh Aisah dan Aminah. Mereka berdua, mengajak teman-temannya untuk mengumpulkan uang, untuk membeli kan jilbab Bu Rohmin. Karena mereka berdua tahu, salah satu faktor pendorong mereka berhijab adalah Bu Rohmin, yang memberi contoh sekaligus inspirasi. Apa yang diberikan kepada Bu Rohmin, ternyata diterima dengan baik, walaupun sebenarnya Ia tidaklah mengharapkan hal itu.
            Bu Rohmin, disetiap malam minggu selalu mengisi pengajian di masjid desa Aisah,  tak terkecuali hari itu. Tidak mengherankan memang, karena Bu Rohmin selain menjadi pengusaha kerajinan, Ia juga menjadi seorang pengajar di Pondok Pesantren. Salah satu kebiasaan Bu Rohmin adalah memberi contoh setelah memberikan nasihat. Itulah kenapa, Aisah, Aminah dan teman-temannya memakai hijab.
  Desa ini akan maju, In Shaa Allah,” Doa Bu Rohmin. Dan disambut kata “Aamiin” dari jamaah yang hadir.
“Tapi, kemajuan yang pesat harus juga di imbangi atau dibentengi dengan keimanan yang kuat, agar kita tidak termakan dengan budaya orang lain, yang tidak sesuai dengan Akidah kita,” seru Bu Rohmin.
“Salah satu hal yang mudah dan dapat menjadi benteng kita adalah Sholat, dan bagi yang perempuan juga harus mngenakan Hijab, mengenakan hijab itu wajib, hijab bukan budaya negara lain, tapi ini adalah perintah Allah, untuk meutup aurat kita dan sebagai tanda kalau kita umat Isalam yang taat,” lanjut Bu Rohmin.
Di barisan shaf, paling belakang ada dua remja yang asyik mendengarkan ceramah Bu Rohmin. Ternyata mereka berdua adalah Aisah dan Aminah.
“Bagaimana kalau kita setiap hari berhijab, tidak hanya disekolah maksudku” ajak Aminah,
Tapi sepertinya Aisah masih ragu, mendengar ajakan Aminah ia hanya menatapnya sambil mengerutkan dahinya.
“Ayolah, I Love hijab, pokoknya,” Aminah belum menyerah.
“ Oke, oke, tapi  setelah aku bertanya dengan Bu Rohmin ya,” Jawab Aisah.
Mendengar jawaban itu Aminah menjadi senang tapi juga tidak begitu senang, karena ajakannya tidak langsung dituruti oleh teman baiknya ini.




 
Ugi Lestari (Paling Kanan) menerima hadiah dan Tropy sebagai Juara 3 Lomba Kaligrafii di Masjid Alqona'ah


Biodata Penulis


Nama               : Ugi Lestari
Alamat            : Tepus, Tepus, Gunungkidul, D.I. Yogyakarta

Penulis merupakan Alumni TPA Fathul Ulum, dan telah menjadi pendamping di kelas TPA B TA 2017/2018

Komentar