BINTANG HIDUPKU



“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”.
 (QS. Luqman: 14)
 

Fatimah, begitulah nama yang diberikan oleh orang tuanya. Fatimah adalah seorang gadis  yang memiliki wajah cantik, sama seperti Ibunya. Tapi sayang, sifatnya sungguh berbeda dengan Ibunya. Ibunya  memiliki sifat rendah hati, penyayang, baik hati , sedangkan fatimah memiliki sifat yang berlawanan.
Ibu Fatimah sudah sering menasehatinya, tetapi Fatimah tetap tidak bisa memperbaiki perilakunya. Oleh karena itu, Ibu Fatimah berencana untuk membawa Fatimah ke pesantren. Kebetulan Ibu Fatimah juga kenal dengan salah satu Ustadzah dipesantren yang akan ditempai Fatimah, yaitu Ustadzah Ainun.
Ibu Fatimah berkata dengan lembut, Fatimah, besuk ibu mau membawa kamu ke pesantren.Siapa tahu kamu bisa jadi anak yang baik. Karena di didik di sana.”
Kok mendadak sih Bu. Kan belum pasti fatimah mau!”,Jawab Fatimah dengan nada tinggi.
Kamu harus mau. Ini jalan terbaik buat kamu!”
Aku kan nggak mau pisah sama ibu”,Jawab Fatimah sambil meneteskan air mata.
Kita nggak pisah, ibu pasti juga sering menengok kamu disana”,Ibu Fatimah menenangkan
anaknya.
Kalau begitu Fatimah mau. Tapi Ibu janji ya sering nengokin Fatimah, kalau Fatimah sudah di pesantren?”,sambil menatap wajah Ibunya.
Iya, ibu janji”,dengn mengelus, rambut Fatimah.

Keesokan harinya, Fatimah dan Ibunya berangkat ke pesantren. Setelah mereka berdua sampai , mereka langsung disambut oleh Usatadzah Ainun. Ibu Fatimah menyampaikan kepada  Ustadzah Ainun mengenai sifat Fatimah. SEtelah perbincangan yang cukup panjang, Ustadzah Ainun menerima Fatimah menjadi santeri di pesantren itu. Ibu Fatimah harus berpisah dengan Fatimah, untuk sementara waktu. Perpisahan ini membuat keduanya  sedih karena baru kali ini mereka berdua berpisah. Dengan berat hati, Ibu fatimah melangkahkan kaki keluar dari komplek pesantren. Fatimah menangis, semua teasa hampa tanpa ada ibunya.
Ibu, Ibu adalah bintang di hidup Fatimah, yang menerangi hidup Fatimah,” Gumam Fatimah.
Ustadzah Ainun menenangkan tangis  Fatimah dan mengajaknya untuk berkenalan dengan santriwati yang lain. Dengan sedikit malu-malu dan mata merah , Fatimah memperkenalkan diri.
Sepertinya, santriwati yang ada dipesantren ini memang baik,”piker Fatimah..
Keesokan harinya, tepat pukul 4 pagi Fatimah belum juga bangun.
Bangun Fatimah, ayo kita shalat subuh!”, ajak seorang santri, bernama Safa.
Fatimah menjawab, sambil menahan rasa kantuknya, “ iya, 5 menit lagi aku  masih ngantuk.
Ayo bangun, sebelum Ustadzah Ainun kesini. Nanti kamu dimarahi kalau kamu belum bangun juga, sambil membuka selimut Fatimah.
Iya, aku bangun kok, Jelas Fatimah.
Akhirnya Fatimahpun bangun. Fatimah tidak menyangka kalau Safa begitu peduli dan mau membangunkannya. Dalam hati Fatimah, merasa malu dengan sifat tidak pedulinya.
Setelah beberapa hari berada di Pesantren sepertinya sifat buruk Fatimah sedikit demi sedikit terkikis,
Safa memang gadis yang baik, pinter, suaranya merdu saat baca Al-Qur’an, beruntung aku kenal dengan dia”, gumam Fatimah dalam hati sambil sesekali mengeluarkan senyum khasnya.
Tapi ternyata sifat jelek Fatimah, belum hilang sepenuhnya. Ini terlihat saat sampai di depan Masjid, sifatnya mendasari  pikiran jeleknya untuk muncul.
Safa, kamu wudhu duluan aja ya, aku mau ke kamar mandi dulu”, kata Fatimah dengan sedikit  senyumnya.
 Owch, kalau begitu aku mau wudhu dulu ya”,Safa menurti keinginan Fatimah.
Iyaa”, Fatimah melangkah meninggalkan Safa.
Diam-diam, Fatimah bersembunyi di balik pohon samping Masjid. Dia menunggu agar semua jamaah masuk ke dalam Masjid. Setelah semua jamaah melakukan shalat subuh. Dengan langkah mengendap-endap Fatimah mengambil satu sandal dan menyembunyikannya di balik semak-semak.
Nah kalau begini pasti nggak ada yang tahu. Pasti mereka bingung mencari pasangan sendalnya.” Gumam Fatimah,sambil cekikikan.
Setelah melakukan kejahatannya, Fatimah kembali bersembunyi di balik pohon sambil menunggu jamaah shalat keluar dari Masjid.
Tiba-tiba  Ustad Hasyim kehilangan sendalanya, Dia sudah mencari-cari tetapi tetap tidak ketemu, para santri juga ikut mencari. Melihat kejadian itu, dalam hati Fatimah ingin tertawa karena puas, berhasil berbuat usil di pesantren.
Tanpa diduga oleh Fatimah, tiba tiba terdengar suara Ustadzah Ainun.
Fatimah, kenapa kamu bersembunyi di balik pohon seperti itu?”
Tidak apa apa ustadzah”, jawab gugup Fatimah.
Jangan-jangan kamu yang mengambil sendal Ustad Hasyim ya?”, tanya Ustadzah.
Tidak Ustadzah”,Fatimah mengelak.
Kamu harus jujur Fatimah, tidak boleh bohong. Apa yang kamu lakukan? Katakan sejujurnya, kata Ustadzah dengan mengelus kepala Fatimah.
Ustadzah benar, memang aku yang mengambil sendal Ustad Hasyim dan menyembunyikannya di balik semak-semak itu, sambil menunjuk sebuah semak-semak.
Setelah mendengar kejujuran Fatimah, Ustadzah Ainun membawanya ke Ustad Hasyim. Ustadzah Ainun kemudian meminta agar Fatimah, mengatakan apa yang telah dia lakukan dan menjelaskannya di hadapan Ustad Hasyim dan para santri yang lain. Fatimah pun mengatakan semuanya dengan jujur.
Baiklah Fatimah, jika memang kamu yang melakukan semua ini, kamu harus menanggung akibatnya”, kata Ustad Hasyim.
Apa hukuman buat fatimah?”, katanya ketakutan.
Nanti, kamu harus menyapu semua halaman pesantren, Hukum Ustad Hasyim.
Baik Pak  Ustad”, Fatimah menerimah hukuman itu.
Fatimah kemudian mengambil sapu dan menyapu semua halaman pesantren. Setelah semua halaman pesantren telah disapu, Fatimah duduk termenung. Tiba-tiba Fatimah teringat akan Ibunya,
 Kapan Ibu nengok Fatimah ya?”
Fatimah, itu ibu kamu lagi bicara sama Ustadzah Ainun. Sepertinya mau nengok kamu.”, kata Safa, yang dari tadi menunggu Fatimah.
Apa iya?”, jawab Fatimah girang.
Iya”,kata Safa.
Ya udah aku mau kesana dulu”, Fatimah berlari menghampiri Ibunya.
Ibu, Fatimah nggak betah disini”,katanya sambil memeluk erat Ibunya.
Ibu Fatimah meyakinkan anaknya,  “ biasakan dulu, lama lama kamu jug akan betah nak.
Fatimah dan Ibunya berbincang, hingga tidak terasa hari sudah siang.
Ibu Fatimah, berpamitan, Ibu pulang dulu ya”.
Iya Bu, hati hati ya”, Fatimah melepas kepergian Ibunya untuk kedua kalinya.
Tidak terasa sudah 7 bulan Fatimah berada di pesantren, Dia semakin betah tinggal di pesantren. Perilakunya juga baik, sopan, ramah, sangat berbeda dengan sifatnya yang dulu. Sifat kekanak- kanakannya pun sudah hilang. Dia menjadi orang yang bijaksana juga rajin beribadah kepada Allah SWT, setiap habis Magribe dan Subuh, Dia tidak pernah lupa melakukan kebiasaanya, yaitu baca Al-Quran, suaranyapun merdu sama seperti suara  Safa.
Semua ini karena Ibuku yang telah membawaku ke pesantren ini, semoga aku menjadi orang yang berguna, Ibuku memang bintang hidupku yang menerangi hidupku di kala aku tidak di jalanNya. Ibuku yang menasehatiku, dia tidak mau jika aku menjadi orang yang sesat ,lebih-lebih jika aku menjadi anak yang durhaka kepada orang tua dan  orang lain. Ibuku pasti langsung menegurku, jika aku berbuat salah,” ujar Fatimah setiap ditanya tentang perubahan perilakunya.





 
Eva Maulana Saat mengikuti lomba Pildacil di Masjid Al-Qona'ah,Condong Catur, Depok, Sleman


Biodata Penulis
Nama               : Eva Maulana Ariyanti
Alamat            : Tepus, Tepus, Gunungkidul, D.I. Yogyakarta

Penulis merupakan alumni TPA Fathul Ulum dan sudah menjadi kakak pembimbing untuk TPA Fathul Ulum. Penulis adalah peraih nilai terbaik di TPA Fathul Ulum. salah satu prestasinya, menjadi juara satu lomba Tartil Qur'an Tingkat Dusun Singkil. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berhijab Itu Indah